Kerajinan Perak Kotagede dan Pertumbuhan Pariwisata Yogyakarta

Masyarakat Indonesia pasti sudah tidak asing dengan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kota yang menjadi salah satu destinasi wisata favorit ini memiliki banyak spot yang biasa dikunjungi oleh para pelancong baik lokal maupun mancanegara. Beberapa di antaranya adalah candi yang telah terdaftar di UNESCO menjadi warisan budaya dunia yaitu Candi Borobudur. Tidak hanya itu, masih banyak tempat-tempat lain seperti Jalan Malioboro dan Taman Sari Keraton Yogyakarta.

Salah satu tempat yang tidak kalah menarik adalah Kotagede. Kawasan ini sudah banyak dikenal wisatawan sebagai tempat wisata kerajinan perak. Di sini para wisatawan tidak hanya bisa membeli oleh-oleh dan souvenir, tapi juga bisa melihat dan mencoba sendiri membuat kerajinan dari bahan perak.

kerajinan perak kota gede

Potensi Besar yang Dimiliki Kotagede

Tidak bisa dipungkiri, dunia pariwisata tidak bisa terlepas dari pertumbuhan dan perkembangan industri kreatif. Menurut Yunianto Dwi Sutono, Kepala Dinas Pariwista Yogyakarta, tanpa peran ekonomi dan industri kreatif yang dikolaborasikan secara maksimal maka potensi pariwisata di Yogyakarta tidak akan bisa berkembang secara optimal.

Menurut data laporan hasil penelitian Statistik Ekonomi Kreatif di tahun 2016 yang bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa terdapat Rp.852,24 triliun pada besaran PDB ekonomi kreatif di antara tahun 2010 hingga 2015, artinya angka ini melonjak dari periode sebelumnya yang hanya mencapai Rp.525,96 triliun.

Ini membuktikan bahwa ekonomi kreatif telah menjadi salah satu pilar penopang perekonomian Indonesia, termasuk bagi kota-kota di Indonesia yang mengandalkan pariwisatanya untuk mendapatkan PAD-nya (Pendapatan Asli Daerah). Lebih optimis lagi melihat pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2015 yang terdongkrak oleh ekonomi kreatif sebesar 7,66%.

Maka dari itu, pemerintah selaku pengelola harus senantiasa memberikan perhatiannya bagi kelangsungan dan kemajuan tempat wisata dengan potensi besar seperti Kotagede dan kerajinan perak bakarnya. Dengan fasilitas dan infrastruktur yang memadai, wisatawan akan merasa nyaman untuk bisa menikmati segala hiburan dan kearifan lokal yang tersaji di daerah.

karya kerajinan perak kotagede

Sejarah Panjang Kerajinan Perak Kotagede

Cerita dimulai ketika Panembahan Senopati memerintahkan Abdi Dalem Kriya untuk membuat kerajinan dari logam mulia seperti emas dan perak guna memenuhi kebutuhan Keraton dan para bangsawan di Yogyakarta. Awal mula produksi perhiasan dari Kotagede hanya dibuat dengan terbatas, hingga akhirnya di masa Sultan Hamengkubuwana ke VIII, para pengrajin perhiasan di Kotagede mulai mendapat perhatian dan mulai memproduksi perhiasan secara masal untuk dijual secara luas.

Tidak hanya untuk konsumsi dalam negeri, ternyata kerajinan perak Kotagede telah tersebar ke berbagai negara di luar negeri sejak dari pemerintahan Hindia-Belanda. Ketika itu masyarakat Eropa sedang menggandrungi berbagai pernak-pernik perak seperti sendok dan garpu, tempat lilin, dan lain-lain. Saat mereka mengunjungi Kotagede, mereka tertarik dengan hasil kerajinan logam yang saat itu didominasi oleh bentuk daun, bunga, dan sulur.

Lambat laun volume perdagangan perhiasan perak mulai meningkat, mendorong pemerintahan Hindia-Belanda saat itu untuk membangun sebuah badan yang dapat mengelola, menjaga, dan meningkatkan kualitas serta teknik kerajinan ini, termasuk mengembangkan pemasarannya. Maka kemudian berdirilah sebuah Lembaga yang diberi nama “Stichting Beverding Van Het Yogyakarta Kent Ambacht”. Lembaga ini bertanggung jawab atas semua kegiatan perdagangan kerajian perak di Yogyakarta, termasuk melatih para pengrajin agar standar kualitas produk Kotagede terjaga.

Hingga kini kerajianan perak Kotagede terus hidup dan bernapas, dilestarikan secara turun temurun sebagai warisan nenek moyang yang patut dibanggakan.