Angkringan: Dari Jogja ke Seluruh Indonesia

Mendengar kata angkringan sudah pasti langsung terbayang makan nasi kucing dengan lauk pauk sederhana ditemani kopi hangat sambil lesehan bersama kawan.

Suasana seperti ini memang banyak dirindukan orang, bukan karena makanan yang super lezat atau tempatnya yang sangat nyaman tapi kehangatan dan keakraban yang tidak banyak ditemukan di kafe atau resto-resto besar.

Ini yang menjadi tren asal Daerah Istimewa Yogyakarta diminati oleh para pengusaha kecil menengah sebagai pintu gerbang masuk ke dunia bisnis kuliner.

Fenomena seperti ini sebetulnya tidak mengherankan karena pangsa pasar angkringan sendiri adalah para pemuda atau orang dewasa yang doyan nongkrong. Sementara setengah dari jumlah penduduk Indonesia adalah berusia di bawah 50 tahun. Artinya, potensi pasar angkringan sangatlah besar.

Memang kebanyakan pelanggan tetap angkringan didominasi oleh pemuda kalangan pelajar dan mahasiswa yang mana gemar nongkrong namun daya belinya tidak terlalu kuat. Jadi sangat cocok dengan angkringan yang memang menyajikan menu-menu murah di bawah 5.000 perak.

angkringan jogja

Modernisasi Angkringan

Seiring dengan perkembangan zaman, bisnis kecil seperti angkringan juga mulai melakukan inovasi agar bisa berevolusi menjadi bisnis yang lebih kuat. Banyak sekarang ini angkringan yang menawarkan fitur-fitur menarik seperti wifi gratis atau tempat mengisi daya untuk menggaet para pelanggan muda yang tidak bisa terlepas dari gadget.

Beberapa angkringan juga memanfaatkan beberapa komunitas untuk menaikan jumlah pengunjungnya. Terutama ketika ada event-event besar seperti Piala Dunia atau Asian Games. Biasanya mereka menyediakan TV atau layar besar dan proyektor untuk mengadakan Nobar atau Nonton Bareng.

Menu Beragam

Yang terkenal dari angkringan sudah pasti nasi kucing. Bukan nasi dengan lauk daging kucing, tapi nasi dengan porsi kecil sehingga mirip makanan kucing. Untuk dapat bertahan di tengah laju kompetisi ekonomi yang begitu ketat, beberapa pengusaha angkringan menambahkan pilihan baru pada menu makanan yang mereka tawarkan.

Seperti halnya yang terjadi di angkringan yang berlokasi di area Kelapa Gading, Jakarta Utara. Mereka menambahkan menu non-halal seperti babi untuk menarik pelanggan non-muslim. Dengan strategi seperti ini, pengusaha akan lebih mudah mendapat pelanggan tetap karena menargetkan yang pangsa pasar yang lebih spesifik